. FalconoID: asal mula namaindonesia
SELAMAT DATANG DIBLOGSPOt FALCONOID !^^v

Tolong buka

Jumat, 29 April 2011

asal mula namaindonesia

asal mula nama
indonesia
Pada zaman purba, kepulauan tanah
air disebut dengan aneka nama.
Dalam catatan bangsa Tionghoa
kawasan kepulauan tanah air
dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut
Selatan). Berbagai catatan kuno
bangsa Indoa menamai kepulauan
ini Dwipantara (Kepulauan Tanah
Seberang), nama yang diturunkan
dari kata Sansekerta dwipa (pulau)
dan antara (luar, seberang). Kisah
Ramayana karya pujangga Walmiki
menceritakan pencarian terhadap
Sinta, istri Rama yang diculik
Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa
(Pulau Emas, yaitu Sumatra
sekarang) yang terletak di Kepulauan
Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air
kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).
Nama Latin untuk kemenyan adalah
benzoe, berasal dari bahasa Arab
luban jawi (kemenyan Jawa), sebab
para pedagang Arab memperoleh
kemenyan dari batang pohon Styrax
sumatrana yang dahulu hanya
tumbuh di Sumatera. Sampai hari
ini jemaah haji kita masih sering
dipanggil "Jawa" oleh orang Arab.
Bahkan orang Indonesia luar Jawa
sekalipun. Dalam bahasa Arab juga
dikenal Samathrah (Sumatra),
Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda),
semua pulau itu dikenal sebagai
kulluh Jawi (semuanya Jawa).
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama
kali datang beranggapan bahwa Asia
hanya terdiri dari Arab, Persia, India
dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah
yang terbentang luas antara Persia
dan Tiongkok semuanya adalah
"Hindia". Semenanjung Asia Selatan
mereka sebut "Hindia Muka" dan
daratan Asia Tenggara dinamai
"Hindia Belakang". Sedangkan tanah
air memperoleh nama "Kepulauan
Hindia" (Indische Archipel, Indian
Archipelago, l'Archipel Indien) atau
"Hindia Timur" (Oost Indie, East
Indies, Indes Orientales). Nama lain
yang juga dipakai adalah "Kepulauan
Melayu" (Maleische Archipel, Malay
Archipelago, l'Archipel Malais).
Pada jaman penjajahan Belanda,
nama resmi yang digunakan adalah
Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda),
sedangkan pemerintah pendudukan
Jepang 1942-1945 memakai istilah
To-Indo (Hindia Timur).
Eduard Douwes Dekker ( 1820 –
1887 ), yang dikenal dengan nama
samaran Multatuli, pernah
mengusulkan nama yang spesifik
untuk menyebutkan kepulauan
tanah air kita, yaitu Insulinde, yang
artinya juga "Kepulauan
Hindia" ( Bahasa Latin insula berarti
pulau). Nama Insulinde ini kurang
populer.
Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit
sebuah majalah ilmiah tahunan,
Journal of the Indian Archipelago
and Eastern Asia (JIAEA), yang
dikelola oleh James Richardson
Logan ( 1819 – 1869 ), seorang
Skotlandia yang meraih sarjana
hukum dari Universitas Edinburgh.
Kemudian pada tahun 1849 seorang
ahli etnologi bangsa Ingris, George
Samuel Windsor Earl ( 1813– 1865 ),
menggabungkan diri sebagai redaksi
majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850,
halaman 66-74, Earl menulis artikel
On the Leading Characteristics of the
Papuan, Australian and Malay-
Polynesian Nations. Dalam artikelnya
itu Earl menegaskan bahwa sudah
tiba saatnya bagi penduduk
Kepulauan Hindia atau Kepulauan
Melayu untuk memiliki nama khas (a
distinctive name), sebab nama
Hindia tidaklah tepat dan sering
rancu dengan penyebutan India
yang lain. Earl mengajukan dua
pilihan nama: Indunesia atau
Malayunesia (nesos dalam bahasa
Yunani berarti pulau). Pada halaman
71 artikelnya itu tertulis:
"... the inhabitants of the Indian
Archipelago or Malayan Archipelago
would become respectively
Indunesians or Malayunesians".
Earl sendiri menyatakan memilih
nama Malayunesia (Kepulauan
Melayu) daripada Indunesia
(Kepulauan Hindia), sebab
Malayunesia sangat tepat untuk ras
Melayu, sedangkan Indunesia bisa
juga digunakan untuk Ceylon
( Srilanka ) dan Maladewa. Earl
berpendapat juga bahwa nahasa
Melayu dipakai di seluruh kepulauan
ini. Dalam tulisannya itu Earl
memang menggunakan istilah
Malayunesia dan tidak memakai
istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga,
halaman 252-347, James Richardson
Logan menulis artikel The Ethnology
of the Indian Archipelago. Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan
perlunya nama khas bagi kepulauan
tanah air kita, sebab istilah "Indian
Archipelago" terlalu panjang dan
membingungkan. Logan
memungut nama Indunesia yang
dibuang Earl, dan huruf u digantinya
dengan huruf o agar ucapannya
lebih baik. Maka lahirlah istilah
Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata
Indonesia muncul di dunia dengan
tercetak pada halaman 254 dalam
tulisan Logan: "Mr. Earl suggests the
ethnographical term Indunesian, but
rejects it in favour of Malayunesian. I
prefer the purely geographical term
Indonesia, which is merely a shorter
synonym for the Indian Islands or
the Indian Archipelago".
Ketika mengusulkan nama
"Indonesia" agaknya Logan tidak
menyadari bahwa di kemudian hari
nama itu akan menjadi nama resmi.
Sejak saat itu Logan secara
konsisten menggunakan nama
"Indonesia" dalam tulisan-tulisan
ilmiahnya, dan lambat laun
pemakaian istilah ini menyebar di
kalangan para ilmuwan bidang
etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar
etnologi di Universitas Berlin yang
bernama Adolf Bastian (1826–
1905 ) menerbitkan buku Indonesien
oder die Inseln des Malayischen
Archipel sebanyak lima volume,
yang memuat hasil penelitiannya
ketika mengembara ke tanah air
pada tahun 1864 sampai 1880. Buku
Bastian inilah yang memopulerkan
istilah "Indonesia" di kalangan
sarjana Belanda, sehingga sempat
timbul anggapan bahwa istilah
"Indonesia" itu ciptaan Bastian.
Pendapat yang tidak benar itu,
antara lain tercantum dalam
Encyclopedie van Nederlandsch-
Indie tahun 1918. Padahal Bastian
mengambil istilah "Indonesia" itu
dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula
menggunakan istilah "Indonesia"
adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki
Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke
negeri Belanda tahun 1913 beliau
mendirikan sebuah biro pers
dengan nama Indonesische Pers-
bureau.
Nama indonesisch (Indonesia) juga
diperkenalkan sebagai pengganti
indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis
van Vollenhoven (1917). Sejalan
dengan itu, inlander (pribumi)
diganti dengan indonesiër (orang
Indonesia).
Identitas Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama
"Indonesia" yang merupakan istilah
ilmiah dalam etnologi dan geografi
itu diambil alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan kemerdekaan tanah air
kita, sehingga nama "Indonesia"
akhirnya memiliki makna politis,
yaitu identitas suatu bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan.
Akibatnya pemerintah Belanda mulai
curiga dan waspada terhadap
pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif
Mohammad Hatta, seorang
mahasiswa Handels Hoogeschool
(Sekolah Tinggi Ekonomi) di
Rotterdam, organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda
(yang terbentuk tahun 1908 dengan
nama Indische Vereeniging berubah
nama menjadi Indonesische
Vereeniging atau Perhimpoenan
Indonesia. Majalah mereka, Hindia
Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam
tulisannya :
"Negara Indonesia Merdeka yang
akan datang (de toekomstige vrije
Indonesische staat) mustahil disebut
"Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia"
saja, sebab dapat menimbulkan
kekeliruan dengan India yang asli.
Bagi kami nama Indonesia
menyatakan suatu tujuan politik (een
politiek doel), karena melambangkan
dan mencita-citakan suatu tanah air
di masa depan, dan untuk
mewujudkannya tiap orang
Indonesia (Indonesier) akan
berusaha dengan segala tenaga dan
kemampuannya."
Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan
Indonesische Studie Club pada
tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong
Islamieten Bond membentuk
kepanduan Nationaal Indonesische
Padvinderij (Natipij). Itulah tiga
organisasi di tanah air yang mula-
mula menggunakan nama
"Indonesia". Akhirnya nama
"Indonesia" dinobatkan sebagai
nama tanah air, bangsa dan bahasa
pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi
Indonesia tanggal 28 Oktober 1928,
yang kini dikenal dengan sebutan
Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang
anggota Volksraad (Dewan Rakyat;
parlemen Hindia Belanda),
Muhammad Husni Thamrin,
Wiwoho Purbohadidjojo dan
Sutardjo Kartohadikusumo,
mengajukan mosi kepada
Pemerintah Hindia Belanda agar
nama "Indonesia" diresmikan
sebagai pengganti nama
"Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda
menolak mosi ini.
Dengan jatuhnya tanah air ke tangan
Jepang pada tanggal 8 Maret 1942,
lenyaplah nama "Hindia Belanda".
Dan setelah itu lahirlah bangsa
Indonesia
Sumber= http://
indonesiakemarin.blogspot.com/2007/09/
asal-usul-nama-indonesia.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar