. FalconoID: Tips 10 rahasia sukses jepang
SELAMAT DATANG DIBLOGSPOt FALCONOID !^^v

Tolong buka

Minggu, 24 April 2011

Tips 10 rahasia sukses jepang

10 Rahasia Sukses
Orang Jepang
1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum
bahwa bangsa Jepang adalah
pekerja keras. Rata-rata jam kerja
pegawai di Jepang adalah 2450 jam/
tahun, sangat tinggi dibandingkan
dengan Amerika (1957 jam/tahun),
Inggris (1911 jam/tahun), Jerman
(1870 jam/tahun), dan Perancis
(1680 jam/tahun).
Seorang pegawai di Jepang bisa
menghasilkan sebuah mobil dalam
9 hari, sedangkan pegawai di negara
lain memerlukan 47 hari untuk
membuat mobil yang bernilai sama.
Seorang pekerja Jepang boleh
dikatakan bisa melakukan pekerjaan
yang biasanya dikerjakan oleh 5-6
orang. Pulang cepat adalah sesuatu
yang boleh dikatakan“agak
memalukan” di Jepang, dan
menandakan bahwa pegawai
tersebut termasuk“yang tidak
dibutuhkan” oleh perusahaan.
2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan
turun temurun bangsa Jepang.
Harakiri (bunuh diri dengan
menusukkan pisau ke perut)
menjadi ritual sejak era samurai,
yaitu ketika mereka kalah dan
pertempuran.
Masuk ke dunia modern,
wacananya sedikit berubah ke
fenomena“mengundurkan diri” bagi
para pejabat (mentri, politikus, dsb)
yang terlibat masalah korupsi atau
merasa gagal menjalankan
tugasnya.
Efek negatifnya mungkin adalah
anak-anak SD, SMP yang kadang
bunuh diri, karena nilainya jelek atau
tidak naik kelas.
Karena malu jugalah, orang Jepang
lebih senang memilih jalan memutar
daripada mengganggu pengemudi
di belakangnya dengan memotong
jalur di tengah jalan. Mereka malu
terhadap lingkungannya apabila
mereka melanggar peraturan
ataupun norma yang sudah
menjadi kesepakatan umum.
3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat
hidup hemat dalam keseharian.
Sikap anti konsumerisme berlebihan
ini nampak dalam berbagai bidang
kehidupan.
Di masa awal mulai kehidupan di
Jepang, mungkin kita sedikit heran
dengan banyaknya orang Jepang
ramai belanja di supermarket pada
sekitar jam 19:30.
Selidik punya selidik, ternyata sudah
menjadi hal yang biasa bahwa
supermarket di Jepang akan
memotong harga sampai
separuhnya pada waktu sekitar
setengah jam sebelum tutup.
Seperti diketahui bahwa
Supermarket di Jepang rata-rata
tutup pada pukul 20:00.
4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di
sebuah perusahaan berjalan dan
tertata dengan rapi. Sedikit berbeda
dengan sistem di Amerika dan
Eropa, sangat jarang orang Jepang
yang berpindah-pindah pekerjaan.
Mereka biasanya bertahan di satu
atau dua perusahaan sampai
pensiun. Ini mungkin implikasi dari
Industri di Jepang yang kebanyakan
hanya mau menerima fresh
graduate, yang kemudian mereka
latih dan didik sendiri sesuai dengan
bidang garapan (core business)
perusahaan.
5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi
orang Jepang mempunyai kelebihan
dalam meracik temuan orang dan
kemudian memasarkannya dalam
bentuk yang diminati oleh
masyarakat.
Menarik membaca kisah Akio Morita
yang mengembangkan Sony
Walkman yang melegenda itu.
Cassete Tape tidak ditemukan oleh
Sony, patennya dimiliki oleh
perusahaan Phillip Electronics.
Tapi yang berhasil mengembangkan
dan membundling model portable
sebagai sebuah produk yang
booming selama puluhan tahun
adalah Akio Morita, founder dan CEO
Sony pada masa itu.
Sampai tahun 1995, tercatat lebih
dari 300 model walkman lahir dan
jumlah total produksi mencapai 150
juta produk.
Teknik perakitan kendaraan roda
empat juga bukan diciptakan orang
Jepang, patennya dimiliki orang
Amerika. Tapi ternyata Jepang
dengan inovasinya bisa
mengembangkan industri perakitan
kendaraan yang lebih cepat dan
murah.
6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa
Jepang termasuk bangsa yang tahan
banting dan pantang menyerah.
Puluhan tahun dibawah kekaisaran
Tokugawa yang menutup semua
akses ke luar negeri, Jepang sangat
tertinggal dalam teknologi.
Ketika restorasi Meiji (meiji ishin)
datang, bangsa Jepang cepat
beradaptasi dan menjadi fast-
learner. Kemiskinan sumber daya
alam juga tidak membuat Jepang
menyerah.
Tidak hanya menjadi pengimpor
minyak bumi, batubara, biji besi dan
kayu, bahkan 85% sumber energi
Jepang berasal dari negara lain
termasuk Indonesia . Kabarnya
kalau Indonesia menghentikan
pasokan minyak bumi, maka 30%
wilayah Jepang akan gelap gulita.
Rentetan bencana terjadi di tahun
1945, dimulai dari bom atom di
Hiroshima dan Nagasaki , disusul
dengan kalah perangnya Jepang,
dan ditambah dengan adanya
gempa bumi besar di Tokyo,
ternyata Jepang tidak habis.
Dalam beberapa tahun berikutnya
Jepang sudah berhasil membangun
industri otomotif dan bahkan juga
kereta cepat (shinkansen) .
Mungkin cukup menakjubkan
bagaimana Matsushita Konosuke
yang usahanya hancur dan hampir
tersingkir dari bisnis peralatan
elektronik di tahun 1945 masih
mampu merangkak, mulai dari nol
untuk membangun industri
sehingga menjadi kerajaan bisnis di
era berikutnya.
Akio Morita juga awalnya menjadi
tertawaan orang ketika menawarkan
produk Cassete Tapenya yang
mungil ke berbagai negara lain. Tapi
akhirnya melegenda dengan Sony
Walkman-nya.
Yang juga cukup unik bahwa ilmu
dan teori dimana orang harus
belajar dari kegagalan ini mulai
diformulasikan di Jepang dengan
nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau Anda datang ke
Jepang dan masuk ke densha (kereta
listrik), sebagian besar
penumpangnya baik anak-anak
maupun dewasa sedang membaca
buku atau koran.
Tidak peduli duduk atau berdiri,
banyak yang memanfaatkan waktu
di densha untuk membaca. Banyak
penerbit yang mulai membuat man-
ga (komik bergambar) untuk materi-
materi kurikulum sekolah baik SD,
SMP maupun SMA.
Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa,
dsb disajikan dengan menarik yang
membuat minat baca masyarakat
semakin tinggi. Budaya baca orang
Jepang juga didukung oleh
kecepatan dalam proses
penerjemahan buku-buku asing
(bahasa inggris, perancis, jerman,
dsb).
Konon kabarnya legenda
penerjemahan buku-buku asing
sudah dimulai pada tahun 1684,
seiring dibangunnya institute
penerjemahan dan terus
berkembang sampai jaman
modern. Biasanya terjemahan buku
bahasa Jepang sudah tersedia dalam
beberapa minggu sejak buku
asingnya diterbitkan.
8. Kerjasama
Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu
mengakomodasi kerja-kerja yang
terlalu bersifat individualistik.
Termasuk klaim hasil pekerjaan,
biasanya ditujukan untuk tim atau
kelompok tersebut.
Fenomena ini tidak hanya di dunia
kerja, kondisi kampus dengan lab
penelitiannya juga seperti itu,
mengerjakan tugas mata kuliah
biasanya juga dalam bentuk
kelompok.
Kerja dalam kelompok mungkin
salah satu kekuatan terbesar orang
Jepang. Ada anekdot bahwa“1
orang professor Jepang akan kalah
dengan satu orang professor
Amerika, namun 10 orang professor
Amerika tidak akan bisa
mengalahkan 10 orang professor
Jepang yang berkelompok”.
Musyawarah mufakat atau sering
disebut dengan“rin-gi” adalah ritual
dalam kelompok. Keputusan
strategis harus dibicarakan dalam
“rin-gi”.
9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih
untuk mandiri. Bahkan seorang anak
TK sudah harus membawa 3 tas
besar berisi pakaian ganti, bento
(bungkusan makan siang), sepatu
ganti, buku-buku, handuk dan
sebotol besar minuman yang
menggantung di lehernya.
Di Yochien setiap anak dilatih untuk
membawa perlengkapan sendiri,
dan bertanggung jawab terhadap
barang miliknya sendiri. Lepas SMA
dan masuk bangku kuliah hampir
sebagian besar tidak meminta biaya
kepada orang tua.
Biasanya mereka mengandalkan
kerja part time untuk biaya sekolah
dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun
kehabisan uang, mereka
“meminjam” uang ke orang tua
yang nantinya akan mereka
kembalikan di bulan berikutnya.
10. Jaga Tradisi &
Menghormati Orang
Tua
Perkembangan teknologi dan
ekonomi, tidak membuat bangsa
Jepang kehilangan tradisi dan
budayanya. Budaya perempuan
yang sudah menikah untuk tidak
bekerja masih ada dan hidup
sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi
reflek orang Jepang. Kalau suatu hari
Anda naik sepeda di Jepang dan
menabrak pejalan kaki, maka jangan
kaget kalau yang kita tabrak malah
yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif
menghindari berkata“tidak” apabila
mendapat tawaran dari orang lain.
Jadi kita harus hati-hati dalam
pergaulan dengan orang Jepang
karena“hai” belum tentu “ya” bagi
orang Jepang.
Pertanian merupakan tradisi leluhur
dan aset penting di Jepang.
Persaingan keras karena masuknya
beras Thailand dan Amerika yang
murah, tidak menyurutkan langkah
pemerintah Jepang untuk
melindungi para petaninya.
Kabarnya tanah yang dijadikan lahan
pertanian mendapatkan
pengurangan pajak yang signifikan,
termasuk beberapa insentif lain
untuk orang-orang yang masih
bertahan di dunia pertanian.
Pertanian Jepang merupakan salah
satu yang tertinggi di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar