. FalconoID: Sejarah kerajaan sriwijaya
SELAMAT DATANG DIBLOGSPOt FALCONOID !^^v

Tolong buka

Minggu, 24 April 2011

Sejarah kerajaan sriwijaya

Sejarah
Kebesaran
Kerajaan
Sriwijaya dan
Pengaruhnya
dimasa Kini
Kerajaan Sriwijaya (atau juga
disebut Srivijaya) adalah salah satu
kemaharajaan maritim yang kuat di
pulau Sumatera dan banyak
memberi pengaruh di Nusantara
dengan daerah kekuasaan
membentang dari Kamboja,
Thailand, Semenanjung Malaya,
Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan
Sulawesi. Dalam bahasa Sansekerta,
sri berarti“bercahaya” dan wijaya
berarti “kemenangan”.
Bukti awal mengenai keberadaan
kerajaan ini berasal dari abad ke-7;
seorang pendeta Tiongkok, I Tsing,
menulis bahwa ia mengunjungi
Sriwijaya tahun 671 dan tinggal
selama 6 bulan. Prasasti yang paling
tua mengenai Sriwijaya juga berada
pada abad ke-7, yaitu prasasti
Kedukan Bukit di Palembang,
bertarikh 682. Kemunduran
pengaruh Sriwijaya terhadap daerah
bawahannya mulai menyusut
dikarenakan beberapa peperangan
diantaranya serangan dari raja
Dharmawangsa Teguh dari Jawa di
tahun 990, dan tahun 1025
serangan Rajendra Chola I dari
Koromandel, selanjutnya tahun 1183
kekuasaan Sriwijaya dibawah
kendali kerajaan Dharmasraya.
Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini
terlupakan dan eksistensi Sriwijaya
baru diketahui secara resmi tahun
1918 oleh sejarawan Perancis
GeorgeCœdès dari École française
d’Extrême-Orient.
Historiografi
Tidak terdapat catatan lebih lanjut
mengenai Sriwijaya dalam sejarah
Indonesia; masa lalunya yang
terlupakan dibentuk kembali oleh
sarjana asing. Tidak ada orang
Indonesia modern yang mendengar
mengenai Sriwijaya sampai tahun
1920-an, ketika sarjana Perancis
GeorgeCœdès mempublikasikan
penemuannya dalam koran
berbahasa Belanda dan Indonesia.
Coedès menyatakan bahwa
referensi Tiongkok terhadap“San-
fo-ts’i”, sebelumnya dibaca
“Sribhoja”, dan beberapa prasasti
dalam Melayu Kuno merujuk pada
kekaisaran yang sama.
Sriwijaya menjadi simbol kebesaran
Sumatera awal, dan kerajaan besar
Nusantara selain Majapahit di Jawa
Timur. Pada abad ke-20, kedua
kerajaan tersebut menjadi referensi
oleh kaum nasionalis untuk
menunjukkan bahwa Indonesia
merupakan satu kesatuan negara
sebelelum kolonialisme Belanda.
Sriwijaya disebut dengan berbagai
macam nama. Orang Tionghoa
menyebutnya Shih-li-fo-shih atau
San-fo-ts’i atau San Fo Qi. Dalam
bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan
Sriwijaya disebut Yavadesh dan
Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya
Zabaj dan Khmer menyebutnya
Malayu. Banyaknya nama
merupakan alasan lain mengapa
Sriwijaya sangat sulit ditemukan.
Sementara dari peta Ptolemaeus
ditemukan keterangan tentang
adanya 3 pulau Sabadeibei yang
kemungkinan berkaitan dengan
Sriwijaya.
Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves
Manguin melakukan observasi dan
berpendapat bahwa pusat Sriwijaya
berada di Sungai Musi antara Bukit
Seguntang dan Sabokingking
(terletak di provinsi Sumatera
Selatan sekarang). Namun
sebelumnya Soekmono
berpendapat bahwa pusat Sriwijaya
terletak pada kawasan sehiliran
Batang Hari, antara Muara Sabak
sampai ke Muara Tembesi (di
provinsi Jambi sekarang), dengan
catatan Malayu tidak di kawasan
tersebut, jika Malayu pada kawasan
tersebut, ia cendrung kepada
pendapat Moens, yang sebelumnya
juga telah berpendapat bahwa letak
dari pusat kerajaan Sriwijaya berada
pada kawasan Candi Muara Takus
(provinsi Riau sekarang), dengan
asumsi petunjuk arah perjalanan
dalam catatan I Tsing, serta hal ini
dapat juga dikaitkan dengan berita
tentang pembangunan candi yang
dipersembahkan oleh raja Sriwijaya
(Se li chu la wu ni fu ma tian hwa
atau Sri Cudamaniwarmadewa)
tahun 1003 kepada kaisar Cina yang
dinamakan cheng tien wan shou
(Candi Bungsu, salah satu bagian
dari candi yang terletak di Muara
Takus). Namun yang pasti pada
masa penaklukan oleh Rajendra
Chola I, berdasarkan prasasti
Tanjore, Sriwijaya telah beribukota
di Kadaram (Kedah sekarang).
Pembentukan dan
pertumbuhan
Belum banyak bukti fisik mengenai
Sriwijaya yang dapat ditemukan.
Kerajaan ini menjadi pusat
perdagangan dan merupakan
negara maritim, namun kerajaan ini
tidak memperluas kekuasaannya di
luar wilayah kepulauan Asia
Tenggara, dengan pengecualian
berkontribusi untuk populasi
Madagaskar sejauh 3.300 mil di
barat. Beberapa ahli masih
memperdebatkan kawasan yang
menjadi pusat pemerintahan
Sriwijaya, selain itu kemungkinan
kerajaan ini biasa memindahkan
pusat pemerintahannya, namun
kawasan yang menjadi ibukota tetap
diperintah secara langsung oleh
penguasa, sedangkan daerah
pendukungnya diperintah oleh datu
setempat.
Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak
671 sesuai dengan catatan I Tsing,
dari prasasti Kedukan Bukit pada
tahun 682 di diketahui imperium ini
di bawah kepemimpinan Dapunta
Hyang. Di abad ke-7 ini, orang
Tionghoa mencatat bahwa terdapat
dua kerajaan yaitu Malayu dan
Kedah menjadi bagian
kemaharajaan Sriwijaya.
Berdasarkan prasasti Kota Kapur
yang yang berangka tahun 686
ditemukan di pulau Bangka,
kemaharajaan ini telah menguasai
bagian selatan Sumatera, pulau
Bangka dan Belitung, hingga
Lampung. Prasasti ini juga
menyebutkan bahwa Sri Jayanasa
telah melancarkan ekspedisi militer
untuk menghukum Bhumi Jawa
yang tidak berbakti kepada
Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan
dengan runtuhnya Tarumanagara di
Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di
Jawa Tengah yang kemungkinan
besar akibat serangan Sriwijaya.
Sriwijaya tumbuh dan berhasil
mengendalikan jalur perdagangan
maritim di Selat Malaka, Selat Sunda,
Laut China Selatan, Laut Jawa, dan
Selat Karimata.
Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan
Semenanjung Malaya, menjadikan
Sriwijaya mengontrol dua pusat
perdagangan utama di Asia
Tenggara. Berdasarkan observasi,
ditemukan reruntuhan candi-candi
Sriwijaya di Thailand dan Kamboja.
Di abad ke-7, pelabuhan Cham di
sebelah timur Indochina mulai
mengalihkan banyak pedagang dari
Sriwijaya. Untuk mencegah hal
tersebut, Maharaja Dharmasetu
melancarkan beberapa serangan ke
kota-kota pantai di Indochina. Kota
Indrapura di tepi sungai Mekong, di
awal abad ke-8 berada di bawah
kendali Sriwijaya. Sriwijaya
meneruskan dominasinya atas
Kamboja, sampai raja Khmer
Jayawarman II, pendiri imperium
Khmer, memutuskan hubungan
dengan Sriwijaya di abad yang
sama. Di akhir abad ke-8 beberapa
kerajaan di Jawa, antara lain
Tarumanegara dan Holing berada di
bawah kekuasaan Sriwijaya.
Menurut catatan, pada masa ini pula
wangsa Sailendra bermigrasi ke
Jawa Tengah dan berkuasa disana.
Di abad ini pula, Langkasuka di
semenanjung Melayu menjadi
bagian kerajaan. Di masa
berikutnya, Pan Pan dan
Trambralinga, yang terletak di
sebelah utara Langkasuka, juga
berada di bawah pengaruh
Sriwijaya.
Setelah Dharmasetu, Samaratungga
menjadi penerus kerajaan. Ia
berkuasa pada periode 792 sampai
835. Tidak seperti Dharmasetu yang
ekspansionis, Samaratungga tidak
melakukan ekspansi militer, tetapi
lebih memilih untuk memperkuat
penguasaan Sriwijaya di Jawa.
Selama masa kepemimpinannya, ia
membangun candi Borobudur di
Jawa Tengah yang selesai pada
tahun 825.
Agama dan Budaya
Sebagai pusat pengajaran Buddha
Vajrayana, Sriwijaya menarik
banyak peziarah dan sarjana dari
negara-negara di Asia. Antara lain
pendeta dari Tiongkok I Tsing, yang
melakukan kunjungan ke Sumatera
dalam perjalanan studinya di
Universitas Nalanda, India, pada
tahun 671 dan 695, serta di abad
ke-11, Atisha, seorang sarjana
Buddha asal Benggala yang
berperan dalam mengembangkan
Buddha Vajrayana di Tibet. I Tsing
melaporkan bahwa Sriwijaya
menjadi rumah bagi sarjana Buddha
sehingga menjadi pusat
pembelajaran agama Buddha.
Pengunjung yang datang ke pulau
ini menyebutkan bahwa koin emas
telah digunakan di pesisir kerajaan.
Selain itu ajaran Buddha aliran
Buddha Hinayana dan Buddha
Mahayana juga turut berkembang di
Sriwijaya.
Kerajaan Sriwijaya banyak
dipengaruhi budaya India, pertama
oleh budaya Hindu kemudian diikuti
pula oleh agama Buddha. Raja-raja
Sriwijaya menguasai kepulauan
Melayu melalui perdagangan dan
penaklukkan dari kurun abad ke-7
hingga abad ke-9, sehingga secara
langsung turut serta
mengembangkan bahasa Melayu
beserta kebudayaannya di
Nusantara.
Sangat dimungkinkan bahwa
Sriwijaya yang termahsyur sebagai
bandar pusat perdagangan di Asia
Tenggara, tentunya menarik minat
para pedagang dan ulama muslim
dari Timur Tengah. Sehingga
beberapa kerajaan yang semula
merupakan bagian dari Sriwijaya,
kemudian tumbuh menjadi cikal-
bakal kerajaan-kerajaan Islam di
Sumatera kelak, disaat melemahnya
pengaruh Sriwijaya.
Ada sumber yang menyebutkan,
karena pengaruh orang muslim
Arab yang banyak berkunjung di
Sriwijaya, maka raja Sriwijaya yang
bernama Sri Indrawarman masuk
Islam pada tahun 718. Sehingga
sangat dimungkinkan kehidupan
sosial Sriwijaya adalah masyarakat
sosial yang di dalamnya terdapat
masyarakat Budha dan Muslim
sekaligus. Tercatat beberapa kali raja
Sriwijaya berkirim surat ke khalifah
Islam di Suriah. Pada salah satu
naskah surat yang ditujukan kepada
khalifah Umar bin Abdul Aziz
(717-720M) berisi permintaan agar
khalifah sudi mengirimkan da’i ke
istana Sriwijaya.
Perdagangan
Di dunia perdagangan, Sriwijaya
menjadi pengendali jalur
perdagangan antara India dan
Tiongkok, yakni dengan penguasaan
atas selat Malaka dan selat Sunda.
Orang Arab mencatat bahwa
Sriwijaya memiliki aneka komoditi
seperti kapur barus, kayu gaharu,
cengkeh, pala, kepulaga, gading,
emas, dan timah yang membuat
raja Sriwijaya sekaya raja-raja di
India. Kekayaan yang melimpah ini
telah memungkinkan Sriwijaya
membeli kesetiaan dari vassal-
vassalnya di seluruh Asia Tenggara.
Pada paruh pertama abad ke-10,
diantara kejatuhan dinasti Tang dan
naiknya dinasti Song, perdagangan
dengan luar negeri cukup marak,
terutama Fujian, kerajaan Min dan
negeri kaya Guangdong, kerajaan
Nan Han. Tak diragukan lagi
Sriwijaya mendapatkan keuntungan
dari perdagangan ini.
Relasi dengan
kekuatan regional
Untuk memperkuat posisinya atas
penguasaan pada kawasan di Asia
Tenggara, Sriwijaya menjalin
hubungan diplomasi dengan
kekaisaran China, dan secara teratur
mengantarkan utusan beserta upeti.
Pada masa awal kerajaan Khmer
merupakan daerah jajahan
Sriwijaya. Banyak sejarawan
mengklaim bahwa Chaiya, di
propinsi Surat Thani, Thailand
Selatan, sebagai ibu kota kerajaan
tersebut, pengaruh Sriwijaya
nampak pada bangunan pagoda
Borom That yang bergaya
Sriwijaya. Setelah kejatuhan
Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi
tiga kota yakni (Mueang) Chaiya,
Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat
Nikhom.
Sriwijaya juga berhubungan dekat
dengan kerajaan Pala di Benggala,
pada prasasti Nalanda berangka 860
mencatat bahwa raja Balaputradewa
mendedikasikan sebuah biara
kepada Universitas Nalanda. Relasi
dengan dinasti Chola di selatan India
juga cukup baik, dari prasasti Leiden
disebutkan raja Sriwijaya telah
membangun sebuah vihara yang
dinamakan dengan Vihara
Culamanivarmma, namun menjadi
buruk setelah Rajendra Chola I naik
tahta yang melakukan penyerangan
di abad ke-11. Kemudian hubungan
ini kembali membaik pada masa
Kulothunga Chola I, di mana raja
Sriwijaya di Kadaram mengirimkan
utusan yang meminta
dikeluarkannya pengumuman
pembebasan cukai pada kawasan
sekitar Vihara Culamanivarmma
tersebut. Namun demikian pada
masa ini Sriwijaya dianggap telah
menjadi bahagian dari dinasti Chola,
dari kronik Tiongkok menyebutkan
bahwa Kulothunga Chola I (Ti-hua-
ka-lo) sebagai raja San-fo-ts’i
membantu perbaikan candi dekat
Kanton pada tahun 1079, pada masa
dinasti Song candi ini disebut
dengan nama Tien Ching Kuan dan
pada masa dinasti Yuan disebut
dengan nama Yuan Miau Kwan.
Masa keemasan
Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan
kerajaan maritim, mengandalkan
hegemoni pada kekuatan armada
lautnya dalam menguasai alur
pelayaran, jalur perdagangan,
menguasai dan membangun
beberapa kawasan strategis sebagai
pangkalan armadanya dalam
mengawasi, melindungi kapal-kapal
dagang, memungut cukai serta
untuk menjaga wilayah kedaulatan
dan kekuasaanya.
Dari catatan sejarah dan bukti
arkeologi, pada abad ke-9 Sriwijaya
telah melakukan kolonisasi di hampir
seluruh kerajaan-kerajaan Asia
Tenggara, antara lain: Sumatera,
Jawa, Semenanjung Malaya,
Thailand, Kamboja, Vietnam, dan
Filipina. Dominasi atas Selat Malaka
dan Selat Sunda, menjadikan
Sriwijaya sebagai pengendali rute
perdagangan rempah dan
perdagangan lokal yang
mengenakan biaya atas setiap kapal
yang lewat. Sriwijaya
mengakumulasi kekayaannya
sebagai pelabuhan dan gudang
perdagangan yang melayani pasar
Tiongkok, dan India.
Sriwijaya juga disebut berperan
dalam menghancurkan kerajaan
Medang di Jawa, dalam prasasti
Pucangan disebutkan sebuah
peristiwa Mahapralaya yaitu
peristiwa hancurnya istana Medang
di Jawa Timur, di mana Haji
Wurawari dari Lwaram yang
kemungkinan merupakan raja
bawahan Sriwijaya, pada tahun
1006 atau 1016 menyerang dan
menyebabkan terbunuhnya raja
Medang terakhir Dharmawangsa
Teguh.
Penurunan
Tahun 1017 dan 1025, Rajendra
Chola I, raja dari dinasti Chola di
Koromandel, India selatan,
mengirim ekspedisi laut untuk
menyerang Sriwijya, berdasarkan
prasasti Tanjore bertarikh 1030,
kerajaan Chola telah menaklukan
daerah-daerah koloni Sriwijaya,
sekaligus berhasil menawan raja
Sriwijaya yang berkuasa waktu itu.
Selama beberapa dekade berikutnya
seluruh imperium Sriwijaya telah
berada dalam pengaruh dinasti
Chola. Meskipun demikian Rajendra
Chola I tetap memberikan peluang
kepada raja-raja yang ditaklukannya
untuk tetap berkuasa selama tetap
tunduk kepadanya. Hal ini dapat
dikaitkan dengan adanya berita
utusan San-fo-ts’i ke Cina tahun
1028.
Antara tahun 1079 – 1088, kronik
Tionghoa mencatat bahwa San-fo-
ts’i masih mengirimkan utusan dari
Jambi dan Palembang. Dalam berita
Cina yang berjudul Sung Hui Yao
disebutkan bahwa kerajaan San-fo-
tsi pada tahun 1082 mengirimkan
utusan pada masa Cina di bawah
pemerintahan Kaisar Yuan Fong.
Duta besar tersebut menyampaikan
surat dari raja Kien-pi bawahan San-
fo-tsi, yang merupakan surat dari
putri raja yang diserahi urusan
negara San-fo-tsi, serta
menyerahkan pula 227 tahil
perhiasan, rumbia, dan 13 potong
pakaian. Kemudian juga
mengirimankan utusan berikutnya
di tahun 1088. Namun akibat invasi
Rajendra Chola I, hegemoni
Sriwijaya atas raja-raja bawahannya
melemah, beberapa daerah taklukan
melepaskan diri, sampai muncul
Dharmasraya sebagai kekuatan baru
yang kemudian menguasai kembali
wilayah jajahan Sriwijaya mulai dari
kawasan Semenanjung Malaya,
Sumatera, sampai Jawa bagian
barat.
Berdasarkan sumber Tiongkok pada
buku Chu-fan-chi yang ditulis pada
tahun 1178, Chou-Ju-Kua
menerangkan bahwa di kepulauan
Asia Tenggara terdapat dua kerajaan
yang sangat kuat dan kaya, yakni
San-fo-ts’i dan Cho-po (Jawa). Di
Jawa dia menemukan bahwa
rakyatnya memeluk agama Budha
dan Hindu, sedangkan rakyat San-
fo-ts’i memeluk Budha, dan memiliki
15 daerah bawahan yang meliputi;
Si-lan (Kamboja), Tan-ma-ling
(Tambralingga, Ligor, selatan
Thailand), Kia-lo-hi (Grahi, Chaiya
sekarang, selatan Thailand), Ling-ya-
si-kia (Langkasuka), Kilantan
(Kelantan), Pong-fong (Pahang),
Tong-ya-nong (Terengganu), Fo-lo-
an (muara sungai Dungun daerah
Terengganu sekarang), Ji-lo-t’ing
(Cherating, pantai timur
semenanjung malaya), Ts’ien-mai
(Semawe, pantai timur
semenanjung malaya), Pa-t’a
(Sungai Paka, pantai timur
Semenanjung Malaya), Lan-wu-li
(Lamuri di Aceh), Pa-lin-fong
(Palembang), Kien-pi (Jambi), dan
Sin-t’o (Sunda).
Namun demikian, istilah San-fo-tsi
terutama pada tahun 1178 tidak lagi
identik dengan Sriwijaya, melainkan
telah identik dengan Dharmasraya,
dari daftar 15 negeri bawahan San-
fo-tsi tersebut merupakan daftar
jajahan kerajaan Dharmasraya,
walaupun sumber Tiongkok tetap
menyebut San-fo-tsi sebagai
kerajaan yang berada di kawasan
laut Cina Selatan. Hal ini karena
dalam Pararaton telah menyebutkan
Malayu, disebutkan Kertanagara raja
Singhasari mengirim sebuah
ekspedisi Pamalayu atau Pamalayu,
dan kemudian menghadiahkan Arca
Amoghapasa kepada raja Melayu,
Srimat Tribhuwanaraja Mauli
Warmadewa di Dharmasraya
sebagaimana yang tertulis pada
prasasti Padang Roco. Peristiwa ini
kemudian dikaitkan dengan
manuskrip yang terdapat pada
prasasti Grahi. Begitu juga dalam
Nagarakretagama, yang
menguraikan tentang daerah jajahan
Majapahit juga sudah tidak
menyebutkan lagi nama Sriwijaya
untuk kawasan yang sebelumnya
merupakan kawasan Sriwijaya.
Struktur
pemerintahan
Pembentukan satu negara kesatuan
dalam dimensi struktur otoritas
politik Sriwijaya, dapat dilacak dari
beberapa prasasti yang
mengandung informasi penting
tentangkadātuan, vanua,
samaryyāda, mandala dan bhūmi.
Kadātuan dapat bermakna kawasan
dātu, (tnah rumah) tempat tinggal
bini hāji, tempat disimpan mas dan
hasil cukai (drawy) sebagai kawasan
yang mesti dijaga.Kadātuan ini
dikelilingi oleh vanua, yang dapat
dianggap sebagai kawasan kota dari
Sriwijaya yang didalamnya terdapat
vihara untuk tempat beribadah bagi
masyarakatnya.Kadātuan dan
vanua ini merupakan satu kawasan
inti bagi Sriwijaya itu sendiri.
Menurut Casparis,samaryyāda
merupakan kawasan yang
berbatasan dengan vanua, yang
terhubung dengan jalan khusus
(samaryyāda-patha) yang dapat
bermaksud kawasan pedalaman.
Sedangkan mandala merupakan
suatu kawasan otonom daribhūmi
yang berada dalam pengaruh
kekuasaankadātuan Sriwijaya.
Penguasa Sriwijaya disebut dengan
Dapunta Hyang atau Maharaja, dan
dalam lingkaran raja terdapat secara
berurutanyuvarāja (putra
mahkota), pratiyuvarāja (putra
mahkota kedua) dan rājakumāra
(pewaris berikutnya). Prasasti Telaga
Batu banyak menyebutkan berbagai
jabatan dalam struktur
pemerintahan kerajaan pada masa
Sriwijaya.
Warisan sejarah
Meskipun Sriwijaya hanya
menyisakan sedikit peninggalan
arkeologi dan terlupakan dari ingatan
masyarakat pendukungnya,
penemuan kembali kemaharajaan
bahari ini oleh Coedès pada tahun
1920-an telah membangkitkan
kesadaran bahwa suatu bentuk
persatuan politik raya, berupa
kemaharajaan yang terdiri atas
persekutuan kerajaan-kerajaan
bahari, pernah bangkit, tumbuh,
dan berjaya di masa lalu.
Di samping Majapahit, kaum
nasionalis Indonesia juga
mengagungkan Sriwijaya sebagai
sumber kebanggaan dan bukti
kejayaan masa lampau Indonesia.
Kegemilangan Sriwijaya telah
menjadi sumber kebanggaan
nasional dan identitas daerah,
khususnya bagi penduduk kota
Palembang, provinsi Sumatera
Selatan. Bagi penduduk Palembang,
keluhuran Sriwijaya telah menjadi
inspirasi seni budaya, seperti lagu
dan tarian tradisional Gending
Sriwijaya. Hal yang sama juga
berlaku bagi masyarakat selatan
Thailand yang menciptakan kembali
tarian Sevichai (Sriwijaya) yang
berdasarkan pada keanggunan seni
budaya Sriwijaya.
Di Indonesia, nama Sriwijaya telah
digunakan dan diabadikan sebagai
nama jalan di berbagai kota, dan
nama ini telah melekat dengan kota
Palembang dan Sumatera Selatan.
Universitas Sriwijaya yang didirikan
tahun 1960 di Palembang
dinamakan berdasarkan kedatuan
Sriwijaya. Demikian pula Kodam II
Sriwijaya (unit komando militer), PT
Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk
di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post
(Surat kabar harian di Palembang),
Sriwijaya TV, Sriwijaya Air
(maskapai penerbangan), Stadion
Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya
Football Club (Klab sepak bola
Palembang), semua dinamakan
demikian untuk menghormati,
memuliakan, dan merayakan
kegemilangan kemaharajaan
Sriwijaya.
source: http://
pitu8.blogspot.com/2011/03/
sejarah-kerajaan-sriwijaya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar